Kembali ke halaman Keberlanjutan

Perbankan Berkelanjutan

Menjalankan bisnis bertanggung jawab dan mendukung SDGs

Total File

0

Total Ukuran File

0

Pembiayaan yang Bertanggung Jawab

BCA menaruh perhatian mengenai risiko dan peluang terkait perubahan iklim, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Mitigasi risiko perubahan iklim salah satunya dilakukan melalui pengelolaan manajemen risiko dan penerapan three line of defence. Di sisi lain, BCA melihat peluang perubahan iklim yang berdampak pada perubahan jenis pembiayaan yang mendukung mitigasi perubahan iklim.

BCA mendukung pembiayaan kepada debitur yang memperhatikan aspek sosial, di antaranya kelangsungan budaya Indonesia, serta aspek lingkungan, termasuk mencegah terjadinya krisis air. Dengan mempertimbangkan adanya risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) dalam setiap pembiayaan, BCA mendukung debitur-debitur untuk tidak mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, penebangan hutan, kekeringan, pencemaran, dan pelanggaran hak asasi manusia dan hak pekerja. Secara tidak langsung, kebijakan yang ada di BCA juga mengupayakan agar tidak terjadi penebangan hutan (no deforestation).

BCA memonitor dan mendorong debitur pada industri tertentu untuk mengikuti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) dari Pemerintah Indonesia dan sertifikasi sosial-lingkungan. Beberapa di antaranya yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk perusahaan kelapa sawit, serta Forest Stewardship Council (FSC) untuk perusahaan kayu atau pengelolaan hutan. Sertifikasi sosial-lingkungan lainnya yang dimonitor oleh BCA agar dimiliki oleh debitur yaitu International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), UTZ Certification untuk produk kopi dan kakao, BONSUCRO Certification untuk produk gula, dan sertifikat Green Building untuk konstruksi gedung.

BCA berkomitmen untuk mengembangkan portofolio Kategori Kegiatan Usaha berkelanjutan (KKUB), atau portofolio Keuangan Berkelanjutan, sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.51/POJK.03/2017. Pengembangan portofolio ini merupakan kesinambungan dari partisipasi BCA dalam First Movers, yang merupakan inisiatif sejumlah bank untuk mulai menjalankan Keuangan Berkelanjutan pada tahun 2015.

Pembiayaan berwawasan sosial dan lingkungan dikelola oleh Grup Corporate Banking, Transaction & Finance, Divisi Bisnis Komersial & SME, dan Grup Analisa Risiko Kredit, di bawah pengawasan Direktur Perbankan Korporasi, Direktur Perbankan Komersial & SME dan Direktur Kredit & Hukum.

Per 31 Desember 2020, BCA menyalurkan kredit KKUB sebesar Rp127,0 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 1,5% YoY. Portofolio pembiayaan tersebut terdiri dari kredit KKUB Non UMKM sebesar Rp49,8 triliun dan kredit KKUB UMKM sebesar Rp77,2 triliun. Total pembiayaan kredit KKUB mencapai 22,1% dari total pembiayaan BCA per 31 Desember 2020. Pertumbuhan portofolio kredit KKUB pada tahun 2020 untuk Non UMKM naik sebesar 14,0% dan untuk UMKM turun sebesar 5,2%.

Portofolio KKUB untuk pembiayaan infrastruktur ramah lingkungan, pada tahun 2020 mencapai 22,9% dari total kredit pembiayaan infrastruktur atau meningkat 2,7% dibandingkan tahun 2019. Pembiayaan mencakup antara lain infrastruktur kelistrikan, kereta api, menara telekomunikasi, bandara dan pelabuhan, serta air & sanitasi. Diharapkan hal tersebut dapat mendukung upaya meningkatkan perekonomian nasional sekaligus mewujudkan TPB dan menciptakan pembangunan ekonomi rendah karbon, seperti yang dicita-citakan masyarakat Indonesia.

Kualitas Layanan dan Kepercayaan Konsumen

BCA menyadari pentingnya menjaga kepercayaan nasabah terhadap kualitas layanan demi keberlangsungan perusahaan. Untuk itu, BCA menyediakan solusi perbankan sesuai kebutuhan dan permintaan nasabah yang terkini. Berbagai produk dan layanan BCA juga didesain untuk menciptakan kenyamanan, keamanan dan kepuasan nasabah.

Inovasi dan pengembangan solusi perbankan BCA dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam mengembangkan solusi perbankan, BCA memperhatikan dan mematuhi regulasi yang ada. Seluruh solusi produk baru BCA yang akan diluncurkan, telah dievaluasi oleh Satuan Kerja Kepatuhan.

Sosialisasi dan edukasi produk dan layanan BCA dilakukan terhadap nasabah melalui berbagai sarana komunikasi pemasaran. Salah satunya yaitu melalui sosial media, antara lain Instagram @GoodLifeBCA, Twitter @XpresiBCA, Line @BankBCA. BCA melakukan komunikasi pemasaran mengacu pada kode etik periklanan.

Setiap tahun, BCA bekerjasama dengan pihak independen melakukan survei kepuasan nasabah. Secara tidak langung, survei tersebut merupakan bagian dari sarana komunikasi dan keterlibatan serta menjaga hubungan baik dengan nasabah selaku salah satu pemangku kepentingan utama BCA. Hasil survei customer engagement (CE) menunjukan indeks kepuasan nasabah tahun 2020 berada di 4,67 dari skala 1 sampai 5 dan hasil survei branch service quality (BSQ) mendapat 4,87 dari skala 1 sampai 5.

Pengembangan Teknologi dan Digitalisasi

Seiring perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi, solusi perbankan digital banyak diminati nasabah. BCA secara konsisten terus berinovasi tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan nasabah akan solusi perbankan digital.

Beragam solusi perbankan digital BCA, seperti internet banking maupun mobile banking, melengkapi jaringan kantor cabang serta anjungan tunai mandiri (ATM), untuk memberikan kemudahan layanan perbankan kepada nasabah dan masyarakat. BCA terus melakukan transformasi digital, termasuk mengembangkan potensi financial technology, yaitu menyediakan layanan perbankan berbasiskan digital.

Frekuensi transaksi digital banking menunjukan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2020, terdapat 3.264 juta transaksi perbankan yang dilakukan melalui internet banking (meningkat 30,1% YoY) dan 6.321 juta transaksi perbankan yang dilakukan melalui mobile banking (meningkat 64,3 % YoY). Transaksi yang dilayani melalui kantor cabang hanya tercatat sebesar 120 juta, terus menurun selama tiga tahun terakhir.

Perbandingan frekuensi transaksi atau penggunaan solusi perbankan BCA, per Desember 2020 menunjukan sekitar 82,9% transaksi dilakukan melalui internet banking dan mobile banking, sekitar 1% dilakukan di kantor cabang, dan selebihnya melalui ATM.

Secara tidak langsung, layanan perbankan berbasiskan digital dapat meningkatkan produktivitas nasabah. Transaksi dapat dilakukan di mana dan kapan saja tanpa perlu menghabiskan banyak waktu dan sumber daya mengunjungi kantor cabang BCA terdekat.

BCA secara bertahap mengganti ATM konvensional menjadi Cash Recycling Machine (CRM), mesin yang dapat melayani tarikan sekaligus setoran tunai, sehingga mendukung operasional pengelolaan uang. Pada tahun 2020, jumlah CRM meningkat 2.098 mesin dibandingkan tahun 2019 menjadi 9.038. Pengisian uang di CRM rata-rata dilakukan empat kali per mesin dalam satu bulan, relatif lebih rendah dibandingkan dengan ATM konvensional yang rata-rata memerlukan sebelas kali setiap mesin. Diharapkan hal tersebut menjadi bagian dari komitmen BCA dalam mendukung pengurangan emisi karbon.

Pada tahun 2019, terobosan baru BCA pada digital banking yaitu layanan pembukaan rekening online melalui mobile banking. Tercatat jutaan transaksi pembukaan rekening online. Layanan digital ini secara tidak langsung mengurangi kunjungan nasabah ke cabang dan emisi karbon.

Dalam konteks pelestarian lingkungan, solusi perbankan digital dapat mengurangi penggunaan kertas. Meski layanan digital membutuhkan dukungan data center yang memerlukan energi relatif cukup besar, namun BCA memandang bahwa terjadi penurunan energi dari berkurangnya perjalanan nasabah ke kantor cabang atau ATM BCA terdekat, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi.

Perlindungan Privasi dan Keamanan Data Nasabah

Sebagai institusi perbankan yang unggul, BCA berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat dengan memastikan keamanan data, transaksi dan simpanan dana nasabah. Informasi nasabah bersifat rahasia yang tidak dapat diberikan kepada pihak lain, kecuali dapat dibuka sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perlindungan dan kerahasiaan data nasabah merupakan tanggung jawab bersama seluruh insan BCA. Hal tersebut ditanamkan pada setiap individu BCA melalui kode etik bankir dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Upaya perlindungan data dan keamanan cyber merujuk pada regulasi yang ada, seperti POJK No.1/POJK/07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, SEOJK No.14/SEOJK.07/2014 tentang Kerahasiaan dan Keamanan Data dan/atau Informasi Pribadi Konsumen, PBI No.7/6/PBI 2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah, serta SEBI No.7/25/DPNP tentang Transparansi Informasi Produk bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah.

Kebijakan kerahasiaan dan keamanan data nasabah BCA dituangkan dalam kebijakan internal BCA. Dalam kegiatan operasional, BCA memperhatikan mitigasi risiko keamanan data dan privasi nasabah pada seluruh platform layanan keuangan, termasuk solusi perbankan digital. BCA secara berkesinambungan terus menyempurnakan sistem keamanan teknologi informasi (TI) dalam rangka mengantisipasi ancaman cyber-crime dan mencegah kelalaian atau fraud.

BCA terus meningkatkan sistem keamanan TI sesuai dengan standar internasional. Sejak tahun 2016, Data Center Network Services dan Data Center Operation Services BCA memperoleh sertifikasi ISO/IEC 27001:2013.

Pencegahan Fraud dan Kejahatan Finansial

BCA berkomitmen untuk menjalankan bisnis yang beretika dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Untuk itu, BCA menerapkan mekanisme yang terintegrasi dalam mencegah fraud dan berbagai kejahatan finansial lain, seperti korupsi atau anti fraud, kejahatan teknologi di sektor keuangan atau digital fraud, pencucian uang, dan pendanaan terorisme.

BCA memiliki Biro Anti Fraud yang bertanggung jawab memantau setiap kejadian fraud, dan proses penanganan dan penyelesaiannya. Kemudian, BCA juga memiliki Satuan Kerja Kepatuhan bertanggung jawab dalam penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT). Unit kerja Satuan Kerja Enterprise Security (SKES) secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keamanan teknologi informasi.

Upaya pencegahan fraud dan kejahatan keuangan dilakukan melalui berbagai kebijakan dan prosedur serta sistem pemantauan dan identifikasi, termasuk melalui manajemen risiko. Pada proses pengadaan, BCA terus meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah tindakan penyuapan. BCA juga melakukan audit terhadap seluruh kantor cabang secara berkala dalam 3 tahun (dilakukan skema prioritas berdasarkan hasil assessment). Selain itu, BCA aktif melakukan edukasi dan sosialisasi. Terhadap karyawan, BCA melakukan sosialisasi tentang APU dan PPT, serta anti fraud, antara lain melalui e-learning, komik dan video edukasi. Di samping itu, BCA mengedukasi nasabah terkait fraud sebagai salah satu upaya preventif.

BCA memiliki kebijakan whistleblowing system untuk mendeteksi tindakan korupsi dan fraud. Pada tahun 2020, terdapat 22 pengaduan dugaan fraud, yang berasal dari pengungkapan tindakan fraud atau pelanggaran melalui whistleblowing system. Seluruh pengaduan telah ditindaklanjuti oleh BCA.

Total File

0

Total Ukuran File

0