28 Jan 2026 | News & Feature

Outlook Ekonomi Global 2026: Dua sisi ekonomi: Menavigasi divergensi antara pasar keuangan dan ekonomi riil

Bagian 1 – Gambaran Umum: Menambal retakan dengan kertas

  • Tahun 2025 lebih tangguh dari perkiraan awal seiring pulihnya likuiditas global, didorong oleh kebijakan bank sentral yang lebih akomodatif serta meredanya ketegangan dalam perdagangan. Namun, pemulihan likuiditas sulit mendorong pertumbuhan ekonomi riil, menciptakan divergensi dengan pasar keuangan. Apakah divergensi ini akan terus berlanjut akan menjadi pertanyaan kunci untuk prospek tahun 2026.
  • Meski ada pemulihan, sebagian besar negara sebetulnya menghadapi kerentanan yang sama, yaitu memburuknya pasar tenaga kerja. Hal ini, ditambah dengan meningkatnya beban bunga, membatasi ruang fiskal pemerintah dan mendorong mereka untuk mengadopsi kebijakan “kreatif”, yang cenderung ke arah populis dan proteksionis.
  • Inflasi yang persisten, meningkatnya defisit anggaran, dan ketidakstabilan geopolitik secara kolektif mendorong imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang lebih tinggi di banyak negara. Peralihan ke penerbitan obligasi dengan tenor yang lebih pendek menjadi tak terhindarkan, tetapi hal ini membawa risiko pembiayaan kembali jika kondisi memburuk. Semua ini membuat pemulihan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 masih cukup rapuh.

Bagian 2 – AS dan Suku Bunga: Divergensi yang membesar

  • 🇺🇸 Pemulihan berbentuk K (K-shaped recovery) di AS semakin intensif, dengan kenaikan upah kelompok berpenghasilan tinggi yang melampaui kelompok berpenghasilan rendah, memperburuk kesenjangan pendapatan. Kesenjangan yang semakin besar ini diperparah oleh inflasi yang persisten, yang berdampak lebih buruk pada keluarga berpenghasilan rendah, sementara kelas atas sejauh ini terlindungi oleh wealth effect dari kenaikan harga aset keuangan.
  • Pemotongan pajak dari undang-undang One Big Beautiful Bill Act (OBBBA) menimbulkan kekhawatiran defisit anggaran yang membesar karena pendapatan dari tarif tidak cukup untuk mengimbangi peningkatan biaya fiskal. Seiring dengan meningkatnya tekanan politik, terutama dengan menurunnya akseptabilitas Trump, kemungkinan untuk pemotongan pajak yang lebih besar dapat meningkat, memperumit kondisi fiskal.
  • Meskipun the Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga jangka pendeknya, imbal hasil obligasi jangka panjang AS diperkirakan tetap tinggi, berpengaruh terhadap suku bunga pinjaman seperti KPR. Upaya pemerintah untuk menghindari hal ini melalui kebijakan dari sisi penawaran (seperti membatasi suku bunga pinjaman atau membeli obligasi KPR) akan tetap dibatasi oleh permintaan dan preferensi risiko bank.

Bagian 3 – Tiongkok dan Komoditas: Proses penyeimbangan yang sulit

  • 🇨🇳 Perekonomian Tiongkok ditopang bukan oleh efisiensi, melainkan oleh produksi besar-besaran yang didukung negara, menyebabkan munculnya “perusahaan zombi”. Kelebihan kapasitas yang sangat menjadi dorongan disinflasi di ekonomi global karena Tiongkok mengekspor barang dengan harga murah.
  • Tiongkok sedang menghadapi krisis struktural, termasuk penurunan populasi dan lemahnya kepercayaan konsumen. Secara fundamental, hal ini akan membatasi potensi pertumbuhan jangka panjang Tiongkok. Karena sulit untuk meningkatkan permintaan domestik, pemerintah akan terpaksa untuk mengandalkan pasar eksternal lebih lagi, mendorong surplus perdagangan dan investasi ke luar negeri menjadi lebih tinggi.
  • Produksi industri Tiongkok yang terus berlanjut akan menciptakan permintaan yang stabil untuk komoditas, memberikan prospek kuat untuk logam, terutama yang logam yang penting bagi transisi hijau dan digitalisasi. Prospek untuk komoditas lain beragam, dengan pasar energi yang tampak lesu dan sektor pertanian yang menghadapi risiko dari pola cuaca yang memburuk.

Bagian 4 – Finansialisasi: Harga dari sebuah pembalikkan

  • Penurunan suku bunga diperkirakan akan mendorong pasar saham lebih tinggi, karena saat ini pasar saham sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga the Fed. Fenomena tersebut belum pernah terlihat pada periode-periode sebelumnya. Hubungan dengan nilai fundamental yang terputus ini tidak hanya terbatas pada saham, tetapi juga terlihat pada aset lain seperti emas.
  • Pasar keuangan tumbuh jauh lebih cepat daripada ekonomi riil. Bahkan, di dalam ekonomi riil sendiri, belanja modal terkonsentrasi pada AI. Ditambah lagi, perusahaan semakin memilih pembelian kembali saham (buyback) daripada investasi fisik jangka panjang.
  • Kondisi ini kemungkinan tidak akan terus bertahan. Sejarah menunjukkan bahwa valuasi ekstrem akan menghasilkan imbal hasil jangka panjang yang rendah. Akan terjadi sebuah proses penyeimbangan antara pasar keuangan dan ekonomi riil, yang prosesnya tidak harus secara mendadak seperti gelembung pecah, tapi dapat juga berupa stagnasi yang berkepanjangan. Meski demikian, hasil akhirnya jelas: modal pada akhirnya akan kembali ke ekonomi riil, kemungkinan dengan mengorbankan pasar keuangan (dengan risiko adanya wealth effect yang negatif).