- AS menerapkan tarif baru 10% di bawah Section 122 setelah Mahkamah Agung menyatakan tarif sebelumnya ilegal. Situasi kompleks ini dapat mendorong imbal hasil jangka panjang lebih tinggi, namun di sisi lain juga memberi The Fed sedikit tambahan ruang untuk memangkas suku bunga akibat meredanya tekanan inflasi.
- Perubahan tarif ini akan mendorong ekspor bagi negara seperti Tiongkok dan Vietnam, yang secara tidak langsung dapat menguntungkan Indonesia melalui peningkatan permintaan dari ekonomi Tiongkok. Namun, Indonesia menghadapi dampak negatif langsung karena berisiko kehilangan keunggulan ekspor ke AS karena tarif yang lebih rendah.
- Di Indonesia, reaksi pasar sedikit positif. Di sisi lain, defisit neraca transaksi berjalan masih mungkin melebar akibat belanja pemerintah dan pertumbuhan kredit yang sangat kuat. Oleh karena itu, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, dengan peluang pemangkasan suku bunga yang kecil setidaknya hingga paruh pertama 2026.