08 Jan 2026 | News & Feature

Outlook Perbankan 2026: Waktunya Memetik Hasil dari Segala Upaya

  • Tahun 2025 dapat dianggap sebagai periode penanaman. Bank Indonesia dan Pemerintah telah mengupayakan berbagai langkah, seperti pemotongan suku bunga, injeksi likuiditas sebesar Rp 201 triliun, tambahan insentif KLM, pengeluaran yang difokuskan pada peningkatan konsumsi domestik, insentif pajak, dan lainnya. Namun, semua upaya tersebut membutuhkan waktu untuk memberikan hasil berupa akselerasi pertumbuhan kredit, yang hingga akhir 2025 belum terlihat secara signifikan. Pertanyaannya adalah, apakah kita akan memetik hasilnya pada tahun 2026?
  • Suku bunga global diperkirakan tetap mendukung pertumbuhan likuiditas, meskipun risiko seperti ketegangan perdagangan, ketidakstabilan geopolitik, dan yield obligasi jangka panjang yang tinggi tetap ada. Meskipun kondisi saat ini dapat mendukung peningkatan likuiditas domestik, pemulihan harga komoditas yang terbatas mungkin akan menghambat dampaknya. Akibatnya, belanja pemerintah akan terus berperan penting dalam mendorong likuiditas, dengan kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi kunci untuk mengonversi likuiditas ini ke dalam pertumbuhan kredit.
  • Berbagai indikator sektor riil menunjukkan perbaikan di akhir 2025, mendorong prospek pemulihan pertumbuhan kredit semakin menguat. Mandat BI  yang diperluas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dapat mendorong berbagai kebijakan yang mendukung pertumbuhan kredit, termasuk kemungkinan pemotongan suku bunga tambahan sebesar 50-75 bps di 2026. Namun, upaya ini dapat dibatasi oleh kebutuhan untuk menjaga stabilitas, khususnya dalam mengelola depresiasi rupiah. Kondisi likuiditas yang membaik dan permintaan kredit yang mulai pulih juga dapat mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun 2026, di tengah surplus perdagangan yang moderat. Oleh karena itu, kita melihat adanya kemungkinan pertumbuhan kredit dan DPK akan tetap tangguh di kisaran 8-10% pada tahun 2026.
  • Perbedaan kinerja kredit dan DPK antara bank besar dan kecil semakin mencolok akibat kompetisi yang semakin intens dalam segmen pasar yang terbatas. Tren biaya dana yang lebih rendah, bersama dengan diversifikasi aset, telah menjadi faktor penting dalam mempertahankan profitabilitas, terutama bagi bank kecil hingga menengah. Mengingat industri akan menghadapi era penurunan suku bunga setidaknya selama dua tahun ke depan, bank akan mempertahankan profitabilitas dengan meningkatkan pendapatan non-bunga melalui ekspansi produk dan layanan digital, mengejar pertumbuhan pasar (sebagian melalui akuisisi), dan menyeimbangkan preferensi dinamis dalam komposisi aset (obligasi vs kredit). Tren ini akan menjadi hal yang kita lihat pada tahun 2026.