Bayangkan kamu sedang berjalan di trotoar dan menemukan uang Rp100.000 tergeletak di jalan. Senang? Tentu. Sekarang bayangkan kamu yang justru kehilangan uang Rp100.000 itu. Rasa kehilangan akan jauh lebih besar dibandingkan kesenangan saat menemukan uang tadi, meskipun dengan nominal yang sama.
Fenomena ini juga ada di dalam dunia investasi, dikenal dengan sebutan loss aversion atau dalam bahasa sederhana, ketakutan akan kerugian. Secara naluri, hal ini sejalan dengan basic survival skill dimana menghindari bahaya jauh lebih penting untuk bertahan hidup daripada mengejar peluang. Namun, mengenal dan memahami loss aversion dapat menjadi langkah awal investor untuk membangun kekayaanyang lebih berkesinambungan.
Bagaimana Loss Aversion Berdampak Pada Keputusan Investasi Seseorang?
Loss aversion dapat mempengaruhi keputusan investasi seseorang seperti:
- Menghindari aset berisiko tinggi meskipun memiliki potensi imbal hasil yang lebih besar.
- Menahan aset yang rugi terlalu lama dengan keyakinan bahwa kerugian belum “nyata” selama belum direalisasikan.
- Menjual aset yang untung terlalu cepat sehingga mengorbankan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Peter Lynch, seorang manajer investasi legendaris dari Fidelity Investments, pernah menganalogikan loss aversion seperti memetik bunga dan menyiram rumput liar. Dengan kata lain, investor cenderung menjual aset dengan kinerja baik terlalu cepat sementara memelihara aset yang rugi dengan harapan akan berbalik arah. Masalahnya, keputusan ini seringkali tidak didasarkan pada fundamental seperti nilai dan prospek aset yang sebenarnya namun lebih didasarkan pada harga beli sebagai referensi psikologis.
Mengapa Investor Rentan Mengalami Loss Aversion?
Ketika berinvestasi, kerugian terasa lebih mengancam karena tidak ada kepastian kapan market bisa pulih dan apakah fluktuasi akan berlangsung dalam waktu yang lama. Secara otomatis, respon ketika melihat kerugian adalah defensif - menghindari risiko, menjual aset saat rugi, atau bahkan enggan untuk mulai berinvestasi sama sekali. Pola pikir inilah yang sering kali menghalangi kita untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang.
Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar dapat menghindari loss aversion dan berinvestasi dengan lebih rasional:
- Tentukan tujuan investasi
- Petakan tujuan investasi (goals) berdasarkan jangka waktu (pendek, menengah, dan panjang) agar dapat menentukan instrumen investasi yang sesuai, contohnya:
Jangka Waktu
Contoh Goals
Penjelasan
Contoh Instrumen Investasi
Pendek (< 1 tahun)
Membangun dana darurat
Uang dialokasikan ke instrumen rendah risiko agar tetap “tersedia” (tidak rugi) ketika akan digunakan
- Reksa Dana Pasar Uang Bahana Gebyar Dana Likuid
- Reksa Dana Pasar Uang Batavia Dana Kas Maxima
Menengah (1 - 5 tahun)
Membeli kendaraan bermotor
Untuk meringankan beban cicilan setiap bulan, cari instrumen investasi yang relatif stabil & membagikan imbalan rutin
- Reksa Dana Pendapatan Tetap Manulife Obligasi Unggulan
- Reksa Dana Pendapatan Tetap Ashmore Dana Obligasi Nusantara
- Obligasi / SBN
Panjang (> 5 tahun)
Membeli rumah
Untuk kebutuhan jangka panjang, cari instrumen yang memberikan potensi pertumbuhan yang tinggi
- Reksa Dana Saham BNP Paribas SRI Kehati
- Reksa Dana Saham Batavia Dana Saham
- Dengan fokus ke masing-masing goals tersebut, investor dapat mengurangi kepanikan dan tendensi untuk “cut loss” ketika market bergerak volatil.
- Kamu bisa menentukan tujuan investasimu dengan menggunakan fitur investment goals di myBCA. Untuk informasi lebih lanjut, klik link berikut ini.
- Petakan tujuan investasi (goals) berdasarkan jangka waktu (pendek, menengah, dan panjang) agar dapat menentukan instrumen investasi yang sesuai, contohnya:
- Gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
- Investasikan dana secara rutin dengan nominal tetap, tanpa mencoba menebak waktu terbaik untuk masuk.
- Strategi ini membantu mengurangi bias emosional dan meningkatkan disiplin investasi.
- DCA juga menurunkan risiko mistiming sehingga fluktuasi pasar tidak terlalu berdampak signifikan pada keseluruhan portofolio.
- Di myBCA, kamu bisa memilih layanan investasi berkalasupaya tidak lupa berinvestasi setiap bulannya. Untuk informasi lebih lanjut, klik link berikut ini.
- Evaluasi kepemilikan instrumen investasi secara berkala
- Loss aversion seringkali muncul karena investor terlalu fokus pada kinerja aset dalam jangka waktu yang sangat pendek, misalnya sehari.
- Gunakan horizonevaluasi yang lebih panjang (mingguan atau bulanan) untuk menilai tren dan konsistensi kinerja.
- Lakukan penyesuaian kepemilikan portofolio secara berkala agar tetap sejalan dengan tujuan investasi semula.
Sebagai kesimpulan, dalam investasi, rasa takut sering kali terasa lebih nyata daripada peluang. Namun, rasa takut tersebut dapat dikelola dengan lebih fokus pada disiplin dan pengambilan keputusan yang rasional. Memahami loss aversion bukan sepenuhnya menghilangkannya, tapi belajar untuk tidak dikendalikan olehnya. Karena pada akhirnya, perjalanan membangun kekayaan bukan hanya soal memilih aset yang tepat, tetapi juga tentang mengelola emosi saat mengambil keputusan investasi dengan benar.
