Saat ini, kita hidup di era yang serba mudah dan instan: pesan makanan datang dalam hitungan menit, belanja barang besok pasti sampai. Tanpa terasa, mindset instan itu juga terbawa ke cara melihat dan mengelola uang. Banyak orang ingin cepat kaya pakai jalan pintas. Investasi bukan untuk membangun aset jangka panjang, tapi untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu singkat.
Di sosial media, orang menunjukkan screenshot portofolio hijau dengan return tinggi, seolah-olah investasi tidak perlu banyak usaha. Masalahnya, tidak banyak orang yang sharing– tentang kerugian, tentang panik, tentang salah ambil keputusan. Hal ini akhirnya membentuk persepsi kalau menjadi kaya itu cepat, gampang, dan tidak perlu proses panjang.
Akhirnya, banyak yang masuk ke dunia investasi dengan modal sederhana: rekomendasi. Pengambilan keputusan didasarkan pada asas kepercayaan – percaya teman, percaya influencer. Ketika aset rugi, banyak yang kecewa dan trauma – tidak tahu harus bagaimana dan menyalahkan siapa.
Main Cantik, Bukan Main Ikut
Ada peribahasa yang menyatakan tak kenal maka tak sayang. Dalam konteks investasi, peribahasa ini juga terasa sangat relevan. Sebelum memilih instrumen investasi, kita perlu terlebih dahulu menentukan tujuan investasi, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko. Tanpa proses tersebut, keputusan investasi akan menjadi spekulasi, bukan strategi.
Secara sederhana, keputusan investasi dapat dipahami lewat tiga kebutuhan utama yakni liquidity, income, dan growth. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Penjelasan lebih lanjut mengenai perbedaannya bisa kamu baca pada link berikut ini.
Bagaimana kalau ternyata ketiganya dibutuhkan sekaligus? Apakah harus memilih salah satu dan mengabaikan yang lain?
Dengan perencanaan investasi yang tepat, tiga kebutuhan tersebut dapat terpenuhi tanpa mengabaikan satu sama lain:
- Liquidity: Misalnya mengamankan uang mukacicilan mobil dalam 3 bulan.Produk yang dapat menjadi solusi yaitu Reksa Dana Pasar Uang (Contoh: Bahana Gebyar Dana Likuid & Manulife Dana Kas II A2) yang rendah risiko dan mudah dicairkan untuk pengeluaran dalam jangka pendek.
- Income: Kebutuhan pendapatan untuk meringankan tagihan listrik. Produk yang dapat menjadi solusi yaitu Reksa Dana Pendapatan Tetap (Contoh: Manulife Obligasi Unggulan & Ashmore Dana Obligasi Nusantara) maupun Obligasi Ritel (ORI/SR/ST/SBR) yang membagikan dividen dan kupon per periode untuk meringankan pengeluaran rutin.
- Growth: Seperti untuk persiapan dana pensiun. Produk yang dapat menjadi solusi yaitu Reksa Dana Saham (Contoh: BNP Paribas Ekuitas & BNP Paribas SRI Kehati) serta saham yang berpotensi memberikan pertumbuhan modal yang signifikan. Meskipun demikian, volatilitas di instrumen growth juga relatif lebih tinggi.
Note:- Gunakan strategi dollar cost averaging apabila tidak memiliki waktu dan expertise dalam mengelola investasi
- Dollar cost averaging: membeli aset secara rutin dengan jumlah uang yang tetap tanpa mempertimbangkan fluktuasi pasar. Strategi ini dilakukan untuk menurunkan biaya rata-rata per unit dan menghilangkan kebutuhan untuk menebak waktu terbaik membeli
- Contoh dollar cost averaging: berinvestasi sebesar IDR1 juta setiap kali menerima gaji di tanggal 25 setiap bulannya
Strategi, Bukan Sensasi
Pada akhirnya, menjadi “kaya tanpa bahaya” bukan berarti menghindari risiko sepenuhnya, melainkan memahami risiko yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Investasi ibarat dua sisi koin: bukan hanya tentang mengejar keuntungan setinggi-tingginya, tetapi juga tentang memastikan uang tersedia ketika dibutuhkan dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, yuk mulai atur strategi investasi di myBCA sekarang!
Disclaimer
Produk investasi yang dicantumkan pada halaman ini bukan produk BCA, bukan kewajiban dan tidak dijamin oleh BCA, bukan merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga serta mengandung risiko investasi termasuk tapi tidak terbatas pada kemungkinan kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan.
Setiap informasi yang ditampilkan pada halaman ini bukan merupakan rekomendasi atau saran dari BCA kepada nasabah untuk melakukan investasi pada produk investasi tertentu. BCA tidak bertanggung jawab atas segala akibat dan kerugian yang mungkin timbul atas pilihan nasabah untuk mengandalkan informasi yang ditampilkan pada halaman ini. Segala akibat dan kerugian tersebut menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya.
